Situs Judi Online Bola , Live Casino , IDN Poker , IDN Live , Slot dan Tembak ikan Terbaik dan terpercaya

The Sound of Music (1965)

Trailer

download film the sound of music – Kisahnya sederhana, bahkan termasuk cheesy pula predictable. Maria (Julie Andrews) adalah wanita muda dengan impian menjadi biarawati, namun beberapa suster menganggapnya terlalu ceroboh dan kurang menjaga sopan santun. Maria kemudian ditugaskan menjadi pengasuh bagi ketujuh anak Captain von Trapp (Christopher Plummer), mantan anggota angkatan laut Austria yang sepeninggal istrinya jadi bersikap keras pada anak-anaknya, memperlakukan mereka layaknya pasukan militer. Alur sederhana itu turut dipaparkan dalam naskah yang tidak seberapa kuat, di mana perubahan sikap karakter acapkali hadir amat cepat bak tanpa gradasi. Tebukti naskah garapan Ernest Lehman tak termasuk di antara 10 nominasi Oscar milik film ini.

Mungkin akan banyak penonton masa kini menganggap The Sound of Music terlalu naif. Bagaimana tidak? Canda tawa karakternya hadir hanya karena menyanyikan lagu tentang notasi sambil berlarian di padang rumput. Atau kalau mau bicara lebih luas, banyak permasalahan -termasuk perubahan sikap karakter- diselesaikan oleh nyanyian. Pemikiran “hidup tidak sesederhana itu” wajar saja mengisi pikiran beberapa penonton. Justru dari situ pendapat saya mengenai betapa pentingnya film ini pada masa sekarang bermula. Kita sudah terlampau rumit memandang hidup sehingga kebahagiaan pun tak lagi bisa datang lewat hal-hal simple. Kita sudah merasa cerdas, mengutamakan otak demi menyimpulkan baik/buruk suatu film, tapi melupakan rasa dan memandang rendah paparan klise.

download film the sound of music – Saya dibuat meneteskan air mata saat pertama kali menyaksikan adegan Maria dan ketujuh anak Captain von Trapp bertamasya sambil menyanyikan Do-Re-Mi bersama-sama. Bukan karena adegan itu menyedihkan, tapi sebaliknya, saya tersentuh melihat wajah sumringah aktornya melantunkan lirik-lirik acak yang sejatinya nonsensical. Pemandangan tersebut seketika membawa kebahagiaan. Adegan lain meninggalkan kesan serupa, sebut saja kala Maria mengagumi indahnya pegunungan, bernyanyi mengenai hal-hal favoritnya, atau ungkapan cinta monyet Liesl (Charmian Carr) di bawah guyuran hujan malam hari. Melihat semua itu saya terkesima. Sungguh bahagia tidak sukar didapat asal kita bisa memandang positif kehidupan, menikmatinya, lalu tertawa ditemani orang-orang terkasih.

Terdapat dua aspek penting lain dalam cerita untuk disimak atas kaitannya dengan kondisi dunia sekarang ini. Pertama peran Mother Abbess (Peggy Wood) membantu Maria menemukan kemantapan hatinya. Tiada pernyataan bahwa pilihan mengabdi pada Tuhan sebagai biarawati merupakan keharusan. Satu-satunya pesan adalah “cinta”. Dalam suatu adegan, Mother Abbess berkata bahwa cinta antara pria dan wanita juga suci. Rasa cinta kepada Tuhan bukan berarti membuat seseorang bisa membutakan dirinya terhadap cinta akan sesama. Bandingkan dengan kondisi saat ini di mana agama justru kerap menyebarkan pertikaian alih-alih cinta dan perdamaian.

Aspek kedua berupa hadirnya cengkeraman Nazi di paruh akhir. Kehadiran Nazi merupakan perlambang bagaimana perang menghancurkan kebahagiaan bahkan merusak percintaan yang tadinya tampak begitu manis. Akhirnya kedua aspek itu bersinggungan tatkala di klimaks, para biarawati membantu keluarga von Trapp melarikan diri dari kejaran Nazi. Bahkan dua di antara mereka rela berbuat “dosa” demi menghalangi gerak para tentara. Hal itu menunjukkan bagaimana semestinya para pemeluk agama mengulurkan tangan membantu korban peperangan, bukannya menyulut perang sendiri.